Webinar “One Health: Budaya dan Gender di Papua”

Home » KEGIATAN » NEWS » Webinar “One Health: Budaya dan Gender di Papua”
One Health: Budaya dan Gender

Prof. Agus Suwandono Wakil Koordinator Indonesia One Health University Network (INDOHUN), menyampaikan beberapa kata sambutannya pada pembukaan webinar OHCC Uncen “One Health: Budaya dan Gender di Papua”. Pada penyampaiannya Prof. Agus menekankan sekali lagi, bawah INDOHUN merupakan jejaring Institusi perguruan tinggi Indonesia, yang bertujuan untuk mempromosikan kerjasama multidisiplin pada sektor; manusia, hewan dan lingkungan.

Prof. dr. Agus Suwandono, MPH, Dr. PH (Wakil Koordinator INDOHUN)

Untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan kompleks lainnya di Indonesia, INDOHUN membangun kapasitas Instansi One Health. Baik itu Hard Skill maupun Soft Skill untuk; Institusi, Individu, Universitas atau masyarakat lewat program-program pendidikan dan pelatihannya. Prof. Agus menyebutkan juga bawah INDOHUN memiliki 20 anggota Universitas dan 30 Fakultas Rumpun Kesehatan, di Indonesia dengan lima OHCC. Salah satunya One Health Collaboration Center Universitas Cenderawasih.

Prof. Agus berpendapat penting sekali dilakukan pengenalan masalah budaya dan nilai-nilai di masyarakat, serta kearifan lokal termasuk masalah gender yang sedang hangat diperbincangkan. Webinar tersebut yang dipandu oleh Dr. Dra. Ivonne Poli, M. Si (Kaprodi S2 Antropologi Uncen) selaku moderator dalam kegiatan ini, kemudian memandu seminar ini ke sesi pemaparan materi yang telah disampaikan oleh Dr. dr. Ni Nyoman Sri Budayanti, Sp. MK. (K).

Dr. Dra. Ivonne Poli, M. Si

Dr. dr. Ni Nyoman Sri Budayanti, Sp. MK. (K)

Dr. dr. Ni Nyoman mengatakan sebetulnya, One Health adalah suatu pendekatan. Jika dilihat berdasarkan beberapa teori dari buku-buku yang ada, One Health digambarkan sebagai suatu efek dari kolaborasi berbagai disiplin. Yang bekerja secara lokal, regional, nasional maupun global. Dengan tujuan utama yaitu, meningkatkan kesehatan optimal pada manusia, hewan dan lingkungan.

Dr. dr. Ni Nyoman menyebutkan juga bawah budaya adalah sebuah keunikan kompleks dari bentuk spiritual, material, intelektual, emosional yang mengkategorikan suatu masyarakat atau kelompok sosial; gaya hidup, hak fundamental manusia, nilai, tradisi dan kepercayaan.

Proses Pemaparan Materi

“ Dengan budaya kita bisa membagikan ide dan budaya dapat dipelajari, misalnya belajar dari keluarga; dan tidak diturunkan secara genetik”.

Koentjaraningrat

Bisa dikatakan bawah hal tersebut, mampu membentuk dan mempengaruhi gender. Koordinator dari OHCC Universitas Udayana ini juga menyimpulkan, bawah pemahaman budaya merupakan salah satu kompetensi utama dalam pendekatakan One Health. Yang berguna dalam melakukan kolaborasi, koordinasi dan komunikasi lintas sektoral.

Hal yang sama juga dijabarkan oleh Josefintje Bd Wandosa, SE. M. Si perwakilan dari Dinas Sosial Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi. Papua. Beliau menyebutkan dengan adanya perubahan kebijakan politik dan paradigma terbalik, menjadi sebuah tantangan kesetaraan gender. Dimana jika adanya kesalapahaman sosial yang dapat memungkinkan perubahan pola pikir pada laki-laki, dimana mereka akan beranggapan bawah hal tersebut dapat mengganggu kaum pria. Namun, jika dilihat kembali konsep ini bukan mengenai persaingan antar gender; melainkan demi kepentingan bersama.

Josefintje Bd Wandosa, SE. M. Si

Dr. Dra. Flora Ivonne de Quelyue, M. Sc

Penyetaraan gender yang mana lebih mengarah pada pemberdayaan perempuan bertujuan, untuk meningkatkan  status, posisi dan kondisi perempuan agar mencapai kemajuan yang setara dengan laki-laki. Selain itu, juga memiliki tujuan membangun anak Indonesia yang sehat, cerdas, ceria, bertagwa dan terlindungi. Ujar Dr. Dra. Flora Ivonne de Quelyue, M. Sc Sekertaris Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Uncen.

Dengan menanggapi kritikan dari Drs. Samuel J. Renyaan, M.Sc; Josefintje Bd Wandosa, SE. M. Si mengatakan bawah Otsus jilid pertama faktanya tidak, kemudian menjawab permasalahan ekonomi yang dihadapi oleh mama-mama Papua. Secara regulasi jika dilihat dari UU Otsus itu sendiri, pada bab 47 adanya “Amanat sampai dengan Otsus jilid pertama berakhir, hal itu belum dijabarkan dalam aturan turunan yang kemudian mengatur implementasi atau eksekusi di lapangan”. Walaupun tidak bisa dipungkiri sebenarnya, Dinas Pemberdayaan Perempuan. Provinsi dan Kabupaten Kota; telah berusaha melakukan berbagai pelatihan untuk meningkatkan ekonomi perempuan Papua.

Sesi Foto Bersama

Webinar yang telah dilaksanakan pada Rabu,  25 Agustus 2021 ini kemudian ditutup dengan sesi foto bersama dan penyampaian ucapan terima kasih atau apresiasi mewakili OHCC Uncen dari Dr. Frans A. Asmuruf, M. Si Ketua Himpunan Kimia Indonesia Wilayah Papua & Papua Barat; Kepada para narasumber yang luar biasa pada kegiatan seminar virtual sore hari ini…